HER (1) : Prolog

     Masih teringat jelas momen kala itu, notifikasi chat yang berbunyi mengagetkanku di larutnya malam. Lucu sekaligus heran kurasa. Karena kita belum saling mengenal jauh, aku pasti masih sangat asing bagimu. Tapi kau malah mengungkapkan perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan sekarang.

Regret

Tears for a Lost Love by Pennes From Heaven
“Kamu tahu nggak? aku ini sibuk! Aku ini kerja! Banyak yang mesti ku urus!”
            “Oh ya?! Jadi sms mesra di handphone-mu juga termasuk dalam pekerjaan kamu?! Jawab, Mas!”
            Untuk situasi seperti, aku berharap Tuhan membuat telingaku tuli. Aku tak ingin terjebak dalam mobil mendengar ayah dan mama bertengkar tanpa henti.


Lala dan Ayahnya


“Nggak jadi? Lala udah rindu banget, Fan. Jadi kapan kamu bisa ke sini?”
“Sabar ya, sayang. Kerjaan di kantor tinggal dikit. Besok InsyaAllah aku nyusul ke sana.”
“Oke dah, jangan diingkari ya janjinya, minggu ini harus jadi minggu yang memorable untuk kita.”
“Sip pak imam, sudah dulu ya, salam sayang buat Lala.”

Puisi Gila -,-


Kamu..
Mengalihkan sejenak perhatianku dari ruwetnya struktur inti bumi
Membuatku lupa akan PR Kimia tentang Reaksi Oksidasi
Membawaku lari dari kejamnya rumus trigonometri
Membuat organisme ini menjadi gila karena euforia tak terdefinisi
Maka jadilah saya orang seperdelapan gila ._.

Ada Rasa


        Aku ingin bercerita, Radam Rinsa
         ........     
        Ada rasa, yang ingin kubuang jauh
        Namun di lain sisi, aku ingin memelihara
        Ada rasa, yang aku takut akan adanya
        Namun di sisi lain, aku takut akan kehilangan